Detik-Detik Eksekusi Si Hemorroid

Pagi itu, sesuatu yang aku takutkan terjadi selama setahun belakangan ini akhirnya terjadi juga. Hemorroid yang telah aku derita selama kurang lebih 7 tahun dan memburuk sejak aku melahirkan bidadariku, Nindya, dengan persalinan normal, telah menjadi sangat parah saat ini, sudah memasuki Grade IV kalau aku sesuaikan dengan literature yang aku baca di internet maupun dari penjelasan Dokter Bedah yang menangani aku saat penyakit yang benar-benar menyakitkan ini kambuh sekitar setahun yang lalu.

Yah, setahun yang lalu, saat aku masih bekerja di salah satu klinik internasional di Denpasar ini, penyakit ini juga sempat kambuh lumayan parah. Sudah memasuki Grade III dan saran dari Dokter Bedah di RS Surya Husada, dr. Eka Kusmawan Sp.B, satu-satunya jalan biar tidak kambuh lagi ya dengan tindakan pembedahan alias operasi itu…Saat itu nyaliku benar-benar ciut mendengar kata operasi. Apalagi ditambah lagi salah satu sepupuku pernah menjalani operasi ini dan harus melalui masa penyembuhan yang sangat lama. Maka dari informasi yang aku dapatkan dari teman kerja, akhirnya aku berobat salah satu Dokter di timur pulau Bali ini. Dua kali menjalani pengobatan terapi suntik disana (yang aku sendiri tidak yakin apakah itu aman buatku untuk jangka panjangnya), keluhan yang aku rasakan lumayan kerkurang. Apalagi dengan obat-obata analgesic dan anti radang yang lumayan paten dari klinik tempat aku bekerja, akhirnya berangsur-angsur aku bisa kembali beraktifitas meski penyakitnya belum tuntas sama sekali dan aku sadar suatu saat nanti akan ada kemungkinan menjadi lebih parah lagi mengingat aktifitas di tempat kerja yang lumayan penuh dengan stress dan high pressure…

Setahun berlalu yang diselingi dengan keluhan-keluhan bleeding dan nyeri  yang lumayan sering aku rasakan, terutama disaat aku mesti sering overtime karena banyaknya Evacuation Cases yang harus aku handle.

Sampai akhirnya pada tanggal 28 September’09 pagi dimana hal yang paling aku takutkan terjadi… Aku masih coba bertahan tanpa obat-obatan selama 2 hari.. Tapi akhirnya pada hari Rabu, 30 September’09 mimpi buruk itu benar-benar terjadi…Oh my God… inikah waktunya aku harus menyerah dan memilih Operasi sebagai jalan terbaik?? Aku pulang kerja lebih awal meski harus meninggalkan meeting dengan Bapak dan Ibu dari PULIN BKKBN Pusat untuk membahas rencana kedatangan tamu dari TCTP-BCC-JICA ke BKKBN Bali, tempatku bekerja. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan sakit yang sangat menyiksa… Aku nyatakan keresahan dan ketakutan akan operasi dan rasa sakit tak tertahankan ini kepada suamiku tercinta. Suamiku sempat menawarkan untuk mengantarku terapi suntik itu lagi. Tapi, “Tidak”, kataku. Karena aku sendiri merasa ragu dan khawatir dengan zat yang dipakai untuk menyuntik itu akan berpengaruh buruk pada kesehatanku di kemudian hari. Aku pikir lebih baik aku pergi menemui dokter yang memang memiliki spesialisasi menangani penyakitku ini. Akhirnya sore harinya, dengan diantar suami aku pergi ke RS Surya Husada dan konsultasi dengan dr. Eka Kusmawan,Sp.B. Melihat Medical Recordku, dr. Eka hanya bisa geleng-geleng kepala.”Saran saya masih sama seperti tahun lalu Rik, jalan satu-satunya ya harus pembedahan. Apalagi sekarang sudah memasuki Grade IV. Kemungkinan untuk sembuh tanpa tindakan operasi bisa saya pastikan sangat kecil. Paling banter saya cuma bisa bantu ngasi obat penghilang nyeri saja. Setelah itu sedikit saja salah makan atau stress, akan kambuh lagi Rik”. Begitu kata beliau. Akhirnya saya dan suami banyak bertanya mengenai teknis operasi, termasuk metode yang digunakan, kemungkinan kambuh lagi pasca operasi dan masa pemulihan pasca operasi. Untungnya dr. Eka bukan tipe dokter yang pelit memberikan informasi kepada pasiennya. Beliau menjawab semua pertanyaan kami dengan sabar sehingga bisa sedikit menenangkan aku dan suami. Tapi kami belum berani mengambil keputusan saat itu juga, bagaimanapun juga, operasi ini termasuk kategori berat yang mengharuskanku mesti dirawat di RS selama setidaknya 3 hari, seperti kata dr. Eka. Dan kami masih punya keluarga dan orang tua masing-masing yang perlu diberi tahu mengenai kondisiku dan saran dari dokter. Akhirnya dr. Eka menyerahkan semua pada kami, dan menyatakan akan siap membantu kapanpun kami memutuskan untuk operasi.

Tiba di rumah suamiku langsung menghubungi mertua dan ipar di kampung. Meski lumayan terkejut, tapi pada dasarnya mereka setuju dengan saran dokter karena itu sudah merupakan hal yang terbaik untukku. Setelah itu suamiku ganti menghubungi orangtuaku. Betapa mengejutkan, mereka tidak mengijinkan aku menjalani operasi ini. Pertimbangannya, karena aku belum ada satu bulan baru habis operasi juga, takutnya akan berpengaruh buruk terhadap kesehatanku di kemudian hari…, benar memang, tepatnya tanggal 14 September yang lalu aku juga menjalani operasi Ganglion di pergelangan tangan kananku, yang juga dihandle oleh dr. Eka, yang mengharuskanku menjalani general anastecy saat pembedahan. Maka terjadilah dilemma. Aku sudah tidak tahan dengan sakit yang rasanya tidak bisa aku tahan lebih lama lagi, Aku diam-diam sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri sakit ini dengan operasi saja.. Seperti apa kata dr. Eka. Lebih baik sekarang sekalian ditahan agak lama sakitnya, daripada sering kambuh dan nahan sakit terus…

Hari Kamis masih aku jalani dengan rasa sakit dan dilemma itu. Ditambah lagi aku harus menjalani Tes Kesehatan sebagai prasyarat pengangkatan CPNS menjadi PNS yang mau ga mau harus aku jalani juga. Jadilah hari itu menjadi hari yang sangat menyiksa…Hari Jumat juga harus aku jalani dengan kondisi serupa. Aku tidak bisa pergi kerja…

Maka, hari Jumat malam itu, aku dan suami memutuskan untuk menghubungi orangtuaku lagi besok paginya dan menjelaskan kondisiku yang semakin parah dan sudah tidak kuasa menahan sakit meski telah mengkonsumsi obat-obatan dari dokter….Akhirnya Sabtu pagi itu orangtuaku menyerah karena kasihan padaku dan menyetujui tindakan operasi yang harus aku jalani. Saat itu juga suamiku menguhubungi dr. Eka untuk menginformasikan keputusan kami itu. Beliau menanyakan kapan aku siap. Aku bilang kalau bisa secepatnya. Dr. Eka mengatakankan secepatnya keesokan harinya baru bisa dilakukan operasi karena sehari sebelum tindakan sudah harus mondok di RS untuk menjalani serangkaian persiapan. Kebetulan hari Minggu keesokan harinya dr.Eka menyatakan ada waktu untuk menghandle operasiku. Jadilah malam Minggu itu aku lewatkan di RS. Berat memang rasanya harus meninggalkan anakku tercinta di rumah dengan hanya ditemani neneknya. Tapi inilah jalan satu-satunya untuk kebaikanku.

Hariku di RS aku awali dengan menjalani beragam persiapan, mulai dari pasang infuse, tes darah, pembersihan usus, dan keesokan harinya dianjutkan dengan ECG sebelum aku masuk Ruang OK. Tepat pukul 9.30 pagi aku dibawa ke ruang persiapan operasi. Ternyata dr. Eka, Sang Eksekutor, belum datang. Akhirnya pukul 10.00 operasi dimulai. Diawali dengan injeksi anastesi epidural di ruas tulang belakangku, kemudian aku mengalami mati rasa di bagian bawah tubuhku. Mulailah dr. Eka dan para prajurit tempurnya mengeksekusi hemorrhoid yang telah bersarang selama bertahun-tahun di tubuhku. Operasi berjalan sekitar 1,5 jam. Waktu berjalan sangat lama bagiku. Memang, rasa sakit tidak sedikitpun aku rasakan akibat pengaruh anastesi. Para eksekutorpun bekerja dengan santainya dengan saling lempar joke dan bersenda gurau satu sama lainnya. Tapi suhu ruang OK yang memang dikondisikan sangat menyengat tulang saking dinginnya, membuat aku gemetar menahan dingin. Sekitar pukul 11.30 proses eksekusi berakhir. Sang komandan eksekusi alias dr. Eka Sp.B memberi laporan bahwa semua proses telah usai dan ternyata hemorroidku sangat besar. Aku berterimakasih pada beliau atas semua bantuannya. Setelah itu aku dibawa ke Recovery Room dan berada disana sekitar 1 jam lamanya.

Kurang lebih pukul 13.00 aku dibawa kembali ke ruang perawatan. Aku masih merasakan sedikit kebas dari bagian perut hingga kakiku. Ditemani orangtua, kakak, suami serta iparku, aku menjalani sekitar 2 jam pasca operasi dengan tenang dan santai, tanpa rasa sakit yang berarti. Suamikupun sempat pulang menjenguk anak kami tercinta yang telah kami tinggalkan dari kemarin malamnya. Sampai akhirnya mendekati pukul 3 sore, rasa sakit di areal bekas operasi mulai aku rasakan. Belum lagi aku tidak bisa buang air kecil. Kata perawat jaga itu kemungkinan akibat pengaruh bius. Maka aku buang air dengan bantuan selang catether. Semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Perawat memberikan injeksi pain killer melalui selang infusku. Tapi itu tidak cukup membantu, semakin lama semakin menjadi-jadi rasa sakit yang aku rasakan. Maka, terurailah airmataku saat itu menahan rasa sakit. Perawat akhirnya memberikan injeksi pain killer kedua. Ternyata benar apa yang aku dengar semalam sebelumnya dari perawat jaga. Operasi Hemmoroid dikatakan sebagai operasi yang paling menyakitkan diantara semua jenis operasi karena terjadi di bagian yang menjadi pusat rasa nyeri. Menjelang pukul 20.00 akhirnya rasa sakit itu berangsur-angsur berkurang, ganti dengan sensasi aneh yang aku rasakan. Aku merasa dalam keadaan antara sadar dan tidak… Sayup-sayup aku masih bisa mendengar dan terkadang bisa menyapa keluarga yang menjenguk aku malam itu. Di lain pihak aku merasa terkadang diriku ada di alam lain… Belakangan aku baru sadar kalau saat itulah aku mungkin mengalami apa yang disebut FLY, just like drug users… Itu karena pengaruh dari pain killer yang kata perawat adalah sejenis morphin dalam dosis yang legal. Malam itu aku dipasangi catheter permanen karena belum juga bisa buang air kecil dengan spontan. Malam pertama pasca operasi aku lalui dengan tidak tenang. Sebentar-sebentar aku terbangun akibat rasa nyeri yang sangat mengganggu, disamping karena dibangunkan perawat yang akan menginjeksikan pain killer dan antibiotic di selang infusku serta memonitor vital sign-ku.

Pagi hari Senin, aku merasa agak baikan. Rasa sakit tidak terlalu terasa apabila aku berada dalam posisi tidur. Antibiotik dan pain killer masih tetap disuntikkan 3 kali sehari. Pagi itu mulailah ritual berendam dilaksanakan. Sesuai petunjuk Dokter, aku harus berendam di air hangat yang telah diisi Dettol dua kali sehari selama 15 menit. Ini dimaksudkan untuk mengurangi rasa nyeri, mempercepat menyusutnya bengkak, serta mensterilkan luka bekas operasi. Sekitar pukul 11.00 dr. Eka visit ke kamarku. Seraya menyapaku dan suami, beliau memberi laporan ke suamiku kalau hemoroidku ternyata sangat besar. Beliau menanyakan bagaimana tidurku semalam, keluhan  yang aku rasakan, dan menginstruksikan perawat untuk melepas catetherku untuk melatih spontanitas kantung kemih dan menghindari ketergantungan pada catether. Setelah memeriksa luka operasi, beliau menyatakan kalau lukanya masih sangat bengkak. Aku diminta untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu. Hari itu sangat banyak sejawat suamiku dan juga teman-teman seperjuanganku di kantor yang menjenguk. Jadilah hari itu lumayan fun dan aku bisa sedikit melupakan rasa sakitku. Malam haripun aku lewatkan dengan tidur yang lumayan sukses, kecuali ada sedikit “gangguan” dari perawat jaga yang bolak-balik ke kamar untuk menginjeksikan pain killer dan antibiotic, ataupun sekedar mengukur vital sign-ku.

Hari kedua aku awali dengan perasaan ingin BAB yang lumayan terasa. Meski ada rasa takut akan sakit dan kemungkinan terjadinya Bleeding, aku mencoba melakukannya sesuai dengan saran dr. Eka sehari sebelumnya. Akan tetapi ternyata tidak sukses. Hari itu juga aku harus tinggal di RS sendiri selama beberapa jam karena suamiku harus ke kantornya untuk mengerjakan tugas penting. Sekitar pukul 10.30 dr. Eka visite ke kamarku. Seperti biasa, dengan gaya bicara beliau yang sangat friendly, beliau menyapaku dan menanyakan keadaanku. Kunyatakan kalau aku ada perasaan ingin BAB tapi tidak sukses saat kucoba. Beliau menyatakan kalau itu adalah hal yang normal terjadi pada pasien pasca operasi. Ada dua penyebab. Pertama adalah karena akibat adaptasi rectum pasca operasi yang sering berkontraksi sehingga menimbulkan perasaan seperti ingin BAB, padahal sebenarnya tidak ada kotoran di usus besar. Kedua, yang paling umum terjadi pada pasien pasca operasi hemorrhoid adalah rasa takut yang mengalahkan keinginan BAB, sehingga tidak berani mengeluarkan BAB karena takut nyeri dan pendarahan. Beliau tetap menyarankanku untuk tidak takut BAB karena apabila tidak dikeluarkan akan menjadi keras dan semakin susah dikeluarkan. Selain itu, aku tidak akan dipulangkan sebelum sukses BAB. Okey, lets do it tomorrow, kupikir dalam hati. Hari itu agak membosankan karena kau harus sendiri di RS dan ditambah lagi rasa kangenku pada Bidadari kecilku, Nindya yang sudah 3 hari aku tinggal mondok di RS ini. Untuk membunuh rasa bosan ini, untungnya aku membawa si kotak pipih hitam yang serba bisa, Laptopku, yang bisa aku kotak-katik untuk membunuh rasa bosan ini. Sore harinya masih banyak pula kerabat yang menjenguk aku. Aku jadi sedikit terhibur karenanya. Malampun aku lewatkan dengan tidur yang lumayan lelap kecuali “gangguang kecil” seperti malam-malam sebelumnya.

Hari itu, yang ternyata merupakan hari terkhirku mondok di RS, kuawali dengan rasa sakit yang kembali terasa sangat menyiksa. Pasalnya, aku memaksakan untuk bisa BAB dengan mengejan terlalu keras. Kata perawat itu sebaiknya tidak dilakukan lagi karena bisa mengakibatkan terbukanya luka bekas operasi dan lepasnya jahitan. Setelah diinjeksi pain killer akhirnya berangsur-angsur rasa sakit itu berkurang. Akupun bisa menjalani pagi itu dengan lumayan santai. Menunggu visite dr. Eka (sambil berharap mendengar berita yang paling kutunggu-tunggu – CAN GO HOME!!!!!-karena aku telah sukses BAB meskipun sangat sedikit dan sangat menyakitkan), aku kembali membuka Laptopku dan mengotak-atik foto-foto anakku di Corel Photo-Paint X4 sembari mendengar MP3 lagu-lagu favoritku. Sekitar pukul 11.30 akhirnya orang yang kutungu-tunggu datang. Dengan senyum ramahnya sembari menyapa “Halooo Rik.., apa kabar?”, dr. Eka memasuki ruanganku. Tanpa basa-basi lagi aku menceritakan kalau aku sudah sukses BAB meski dengan pengorbanan yang aku sebutkan sebelumnya. Akhirnya berita yang kutunggu-tunggu datang juga!!! I CAN GO HOME TODAY!!! Thank’s God!!!, batinku dalam hati. Dengan senyum yang sumringah aku berterimakasih pada dr. Eka sembari menjabat tangan beliau. Tak lupa aku minta dibuatkan Surat Keterangan Dirawat dan DC untuk kukirim ke kantor. Dr. Eka banyak memberiku nasehat, baik tentang pola BAB dan pola makan yang harus kujaga, termasuk perawatan luka pasca operasi. Beliau juga menginstruksikan perawat untuk segera mencabut jarum infuse yang masih menempel di tangan kananku. Sementara DC diberikan sampai saat aku harus review lagi 5 hari berikutnya. Tapi sayang, saat itu aku belum bisa segera pulang karena suamiku tercinta masih bekerja. Jadi sambil menunggu suamiku datang sore harinya, aku kembali menarikan jemariku di keypad Laptopku, membuat sebagian dari tulisan ini. Aku juga mengambil foto kamar 411, tempat aku menghabiskan 4 hari ini dan juga foto diriku dengan selang infuse yang masih menempel di tangan. Meski ini bukanlah kenangan manis, setidaknya pengalaman operasi dan mondok di RS ini akan menempati ruang tersendiri dalam memory di chip otakku. Setidaknya foto-foto itu akan menjadi semacam Alert buatku saat timbul keinginan menyantap makanan pedas favoritku… J

Akhirnya, sekitar pukul 14.00 suamiku tercinta datang menjemputku. Setelah menyelesaikan administrasi, tepat pukul 15.00 aku akhirnya bisa melangkahkan kakiku keluar dari RS. Lega banget rasanya, apalagi kalau diingat ntar lagi aku bakalan ketemu dengan anakku yang ngegemesin itu…Aku udah kangen banget dengan Nindya-ku tersayang…Rasa nyeri yang sebenarnya semakin parah karena pain killer melalui infuse telah usai kudapatkan tidak terlalu kurasakan saat itu. Yang ada di pikiranku Cuma pulang, pulang, dan pulang…

Tiba di rumah aku disambut senyuman khas bidadariku seraya berkata “Ibunya Luh Tu Pulang!”…Kamipun berpelukan untuk melepas kangen karena sudah 4 hari ini tidak ketemu. Akupun menyempatkan diri menemaninya bermain selama beberapa saat. Hari semakin sore dan rasa nyeri itu akhirnya perlahan-lahan aku rasakan semakin keras. Belum lagi hasrat pengen BAB dan sensasi perut begah yang aku rasakan. Bolak-balik ke toilet untuk mencoba BAB tetap tidak membuahkan hasil. Malah aku merasakan nyeri yang menjadi-jadi. Akupun menjadi resah. Aku teringat pendapat orang mengenai pasca operasi hemoroid yang menyatakan bisa saja terjadi “salah potong” sehingga pasien tidak bisa BAB ataupun sebaliknya, tidak bisa ngontrol keluarnya BAB. Akhirnya sekitar pukul 19.00 aku memberanikan diri menghubungi dr. Eka untuk menyatakan keluhanku ini. Beliau berkata bahwa itu adalah gejala wajar terjadi pada pasien sepertiku. Aku disarankan untuk tidak takut untuk coba BAB. Jalani saja hingga 2 minggu, berangsung-angsur akan normal kembali… Malam pertama tidur di rumahpun aku lewatkan dengan gelisah dan rasa nyeri di bekas operasi serta sensasi tidak nyaman di perutku yang sangat mengganggu.

Keesokan harinya kembali aku tersiksa dengan rasa yang sama seperti hari sebelumnya. Bahkan sekarang ditambah lagi keluarnya rembesan feces yang keluar diluar kontrolku. Kembali aku teringat akan pendapat orang mengenai anggapan salah tentang resiko pasca op hemoroid itu. Siangnya kembali aku memberanikan diri untuk SMS dr. Eka. Seperti sebelumnya, beliau selalu bisa menenangkan aku dengan menjelaskan bahwa itu juga hal yang wajar terjadi pasca operasi, akibat bengkak dan jahitan-jahitan yang mulai rontok, sehingga belum nutup benar, dan rembesan itu muncul dari sana… Dalam waktu paling lama 2 minggu semua akan normal kembali…Beliau juga memastikan kalau tindakan “salah potong” atau apapun seperti anggapan masyarakat awam, itu tidak mungkin terjadi padaku…Mendengar hal itu aku bisa sedikit tenang…

Memasuki hari ke-5 pasca operasi, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya aku bisa BAB lancar, dengan rasa sakit yang bisa dibilang sangat minim. Tapi untuk duduk aku tetap belum berani terlalu lama karena akan terasa sangat tidak nyaman dan nyeri…

Senin, 12 Oktober’09 adalah kali pertama aku review ke RS. Tiba di ruang periksa, dr. Eka menyambutku dengan kelakarnyanya..”Gimana Rik, masih resah dan gelisah..?”(Karena seringnya aku mengganggu beliau dengan telepon maupun SMS seputar keluhan yang aku rasakan). Aku hanya bisa tersenyum mendengar guyonan dokterku ini. Setelah dicek, ternyata lukaku masih lumayan bengkak. Beliau menyarankan aku tetap berendam 2 x sehari dengan larutan air hangat dan Dettol. Akupun mengeluarkan semua unek-unek dan hal-hal yang menganggu pikiranku selama ini. Itu semua adalah hal yang sangat wajar terjadi pada pasien sepertiku, kata dr. Eka. Beliau juga berpesan untuk jangan pernah ragu untuk sekedar telepon ataupun SMS untuk berkonsultasi dengan beliau… Sehingga beliau bisa tahu perkembanganku..Ah, betapa baiknya dokterku yang satu ini…Akupun diminta untuk datang Review kembali pada hari Sabtu, 17 Oktober 2009.

Tibalah hari Penampahan Galungan keesokan harinya. Sayang sekali, disaat semua umat Hindu merayakan kemenangan Dharma dari Adharma, aku hanya bisa terbaring dan tidak bisa melakukan aktifitas persiapan upacara sebagaimana seharusnya. Keesokan harinyapun, saat suami dan anakku pergi ke kampung untuk sembahyang, aku tidak berani ikut mengingat jarak dari Denpasar ke kampung suamiku lumayan jauh. Apalagi dengan kondisiku saat ini yang belum bisa duduk lama…Akan menjadi perjalanan yang sangat menyiksa…Jadilah aku menghabiskan Hari Raya Galungan dengan sendiri di Denpasar. Untungnya menjelang sore hari, Ibu, Bapak serta Kakakku datang ke rumahku. Lumayan membuat sisa hari Galungan bisa aku lalui dengan lebih cepat..

Hari berikutnya, Umanis Galungan, aku sudah benar-benar bosan berada di rumah terus-menerus. Maka akupun minta suamiku tercinta mengajak aku jalan-jalan keluar untuk sekedar menghirup udara segar. Sorenya pun aku, suami beserta Nindya, anakku,  jalan-jalan keluar..Maka jadilah hari itu menjadi hari pertamaku bisa pergi keluar dan jalan-jalan.

Keesokan harinya, Jumat, 16 Oktober’09, tepatnya hari ke 12 pasca pembedahan,  adalah hari pertamaku mulai kerja setelah Hemmoroidku kambuh dan akhirnya dioperasi. Yah, hari itu aku harus mulai kerja karena DC dari dokter udah habis. Lagipula aku sedikit khawatir kalau terlalu lama tidak masuk kerja, meskipun dengan alasan sakit, karena statusku yang masih CPNS. Aku takut itu akan berpengaruh pada DP3-ku. Suamiku mewanti-wantiku untuk tidak memaksakan diri untuk ngambil kerjaan berat di kantor dan ingin mengantarku berangkat kerja. Kataku, “Tenang saja, aku udah cukup kuat untuk kembali kerja”. Maka berangkatlah aku ke kantor pagi itu –bahkan dengan mengendarai sepeda motorku sendiri-. Wonder woman! Kata suamiku. Tiba di kantor akupun disambut dengan berbagai pertanyaan dari rekan sejawat maupun senoirku seputar penyakit dan operasi yang aku jalani. Bahkan, yang membuat aku tertawa, teman-teman dari Bidang lain mengira aku opname karena kena DB! Entah dari mana mereka mendapat berita itu. Karena hari itu Jumat, seperti biasa semua pegawai di kantorku melaksanakan senam pagi. Akan tetapi aku belum berani ikut karena sesuai dengan nasehat dr.Eka, olahraga baru bisa dilakukan setelah memasuki minggu ke IV pasca operasi. Maka hari pertamaku kerja bisa dibilang tidak terlalu efektif karena lebih banyak aku lewatkan untuk duduk santai dan jalan-jalan di sekitar ruanganku. Rekan-rekan serta atasankupun malah memarahi aku ketika aku mencoba untuk sedikit membantu mereka bekerja. “Udah kamu diem aja dulu, nanti kalau udah sehat baru kerja”. Gitu kata mereka. Ah, aku benar-benar beruntung memiliki teman-teman dan atasan yang benar-benar baik dan mengerti kondisiku saat itu…

Hari Sabtu, 17 Oktober’09 adalah waktuku untuk kembali Review ke RS. Aku pergi kesana sendiri karena suamiku tercinta harus bekerja, sedangkan sebagai PNS aku memang libur. Sekitar pukul 10.00 aku masuk ke ruang periksa dengan disambut oleh sang eksekutor Hemorroidku, dr. Eka. Setelah melakukan pemeriksaan dan menanyai aku seputar keluhanku, beliau menginformasikan bahwa secara umum perkembanganku sudah cukup baik sehingga Review secara medis tidak diperlukan lagi. Tapi apabila nanti aku mengalami keluhan yang menggangu, aku bisa datang kapan pun…

Minggu ini, tepat 5 minggu pasca Operasi, aku bahkan sudah bisa menjadi Tim pendamping Delegasi dari Negara-negara yang tergabung dalam The Third Countries Training Program – Behaviour Communication Change , suatu kegiatan akbar tahunan berskala internasional di Kantor tempatku bekerja…Dengan kondisiku yang semakin membaik, semakin sedikit keluhan yang aku rasakan meski daerah bekas operasi masih agak bengkak, tapi menurut dokterku itu akan berangsur-angsur menyusut, paling tidak selama 2 bulan akan normal kembali, yang penting secara fungsional tidak terlalu mengganggu…Maka aku berusaha melewati masa-masa recovery ini dengan enjoy aja…Lagian setiap aku ada pertanyaan seputar keluhanku, aku bisa segera menghubungi dr. Eka dan berkonsultasi baik melalui SMS, FB ataupun Blog beliau. Beliau pasti akan selalu siap memberi advisenya…Satu hal Yang pasti, apa yang aku rasakan sekarang jauh lebih baik daripada sebelum aku memutuskan menjalani tindakan pembedahan ini…

**************************************

“Hal yang paling aku bisa ambil hikmahnya dari pengalamanku diatas adalah, aku sedikit menyesal, kenapa tidak dari dulu saja aku memutuskan untuk menjalani operasi ini…Aku merasakan kondisiku sangat amat jauh lebih baik daripada saat aku belum dioperasi…Dengan tetap menjaga pola makan, pola BAB dan life style yang sehat, aku harap penyakit Hemorroid itu tidak lagi menghampiri aku……”l

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi ataupun menjadi motivasi bagi teman-teman yang saat ini mengalami penyakit Hemorroid, terutama yang telah memasuki Grade III atau IV, yang jalan terbaiknya emang dengan pembedahan…Details keluhan yang saya uraikan dalam tulisan diatas bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti teman-teman, saya hanya mencoba memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi nyata pasca pembedahan itu sendiri. Satu hal yang saya harus tekankan, semua keluhan itu akan cepat teratasi dan keluahan-keluhan itu akan terasa menjadi sesuatu yang sangat kecil dibandingkan kesembuhan total yang akan teman-teman peroleh pasca pembedahan. Tidak akan ada lagi rasa nyeri, bleeding, siksaan saat harus menjalankan ritual di pagi hari, ataupun keluhan-keluhan lainnya yang biasa teman-teman rasakan sebelum pembedahan…

Melalui tulisan ini saya juga ingin mengungkapkan rasa terimakasih saya yang terdalam kepada dr. Eka Kusmawan Sp.B dan RS Surya Husada atas segala perawatan pra dan pasca operasi, serta kesediaannya untuk melayani konsultasi di luar jam praktek…

“SALUTE, YOU’RE REALLY A GREAT DOCTOR!!!”

    • Astri Hindayani
    • August 26th, 2015

    wahhh. .. trima kasih sharingnya yg membuatku menguatkan diri menghadapi sakit pasca operasi. aku br selsai operasi kmrn siang 25/8/15 di RS Surya Husada Nusa Dua.

    • Semoga cepet pulih ya Mba..

      Salam

    • Firman
    • June 20th, 2015

    Apa yg anda alami prnh saya alami 5 tahun lalu, dan rasa sakit pasca oprasi sunguh luar biasa dan membuat saya tdk ingin kembali lg mengalaminya

    • Fauzan
    • December 11th, 2014

    Iya memang benar rasanya begitu
    Dan nyeri banget,rasa takut untuk bab
    Tapi kok gak bilang kalau keluar cairan setelah operasi,,,kalau saya harus pakai
    Softex,,,guna mencegah cairan itu kena
    Di celana dalam,dan baunya agak gak enak heheh
    Semua tulisan mbak,sama persis dengan apa yang aku rasakan setelah operasi,,,tapi mungkin aku masih lama sembuh,walau udah minggu ke 4 sekarang
    Aku masih merasa nyeri,dan bab pipih,gak seperti pas normal dulu
    Dan di karena kan aku gak makan sayur dan buah,jadi agak lama untuk sembuh
    Tapi semoga aja nanti bisa sembuh total
    Asupan sayur dan buah,nanti pakai vegeta aja hehehe

    • Ratu Nandi
    • November 18th, 2014

    Thanks ya infonya.. kebetulan sy jg br 4 hr pasca op hemoroid.. rasanya msh nyeri sekali dan blm berani duduk, karena benang jahitannya msh ada.

    • Raniaditya
    • October 20th, 2014

    kereen, jd pngn nulis pnglman jg mbk, hehe. q br oprsi tgl 15 okt 14 kmrn, untungny hmoroidq blm bsr tp sdh dsranin dkter oprsi biar g tmbh bsr, q lgsg nkat ikut sranny. skt bgt pas msh pke tampon n kateter slm 3 hr psca oprsi. 5 hr di RS, skg drmh q sdh bs BAB. slm 10 hr disruh rndam pntat 2x pke lrutan PK. klo rsa nyri psca oprsi didaerah anus cm q rsain pas BAB n bbrp mnt stlhny, klo g BAB sdh g krsa nyri, cm g enak kyk msh ada yg gnjel ja. kr2 apa y tu. klo q rba c emg dah g da bnjolan..

  1. Trimakasih.sangat bermanfaa dan suport bagiku yang baru kemarin dioperasi hemoroid krn jg sdh pada derajat/grade 4. Mohon sarannya mbak Rik… thanks

    • christa
    • January 2nd, 2014

    ini pertama kali saya membaca sebuah tulisan hingga meneteskan air mata.. karena ternyata nasib saya sama dengan saudari… krn hari2 ini adalah penantian operasi hemoroid yg masih menunggu jadwal dr dokter.. dan ini akan menjadi ke 3 kalinya saya akan masuk ruang operasi.. yg pertama adalah operasi amandel yang kedua adalah ganglion sama seperti saudari.. yg saya takutkan dr op hemoroid adalah bukan operasiny.. tp pasca operasiny.. karena saya alergi segala jenis antibiotik.. seperti kedua op yg sudah saya alami tanpa obat2tan penyembuh luka.. tp sepertinya saya sudah pasrahkan semua ke tangan Tuhan.. 10 th waktu yg lama utk bertahan.. Trimakasih atas semangat dan inspirasi yg menguatkan hati saya utk melakukan operasi..

    • rara
    • July 15th, 2013

    sbelumnya makasih buat infonya yaa mbak…🙂

    mbak…
    Aq jg punya masalah yg sama, tp msh takut u/ mngeksekusinya…
    soalnya kata org2 sehabis op. Pasien nya gak bs mngontrol BAB selamanya yaa..?
    Tiba dtg rangsangannya mesti lgsung BAB gtu…
    O iya mbak, aq boleh minta no.telponnya buat share mbak…?
    Makasih…

    • elijah
    • April 20th, 2013

    Benar -benar cerita yg komplit mbak…hehheheh sama mbak aku juga takut bget sama oprasi tapi aku kesakitan terus mau coba herbal ja dulu.ketika aku mengetik tulisan ini aku sedang mengalaminya kemingkinan G IV…tapi masih takut dan ragu..

    • Bowo
    • September 3rd, 2012

    Trimakasih atas infonya bunda..saya juga penderita wasir&baru niat mau operasi.
    Kalo boleh tau sblum menjelang operasi, wasirnya (maaf) udah segede apa?

    • Sebelum operasi saya dinyatakan sudah grade IV Mas….
      Saran saya segera aja dioperasi biar ga mengganggu aktifitas sehari-hari

      Salam

    • amaliaa
    • July 12th, 2012

    Seneng bisa nyangkut d blog nya. Manfaat bgt u saya,karena saya br 3hr yg lalu d operasi.
    Hari senin saya operasi,tp sampai hr kamis ini blm BAB. Udah berasa mules seperti ingin BAB,tp setiap saya paksa keluar tdk keluar jg, krn menurut dokterkan tdk boleh mengejan,biar keluar dg sendirinya.
    Berapa hr pasca operasi mba bisa BAB tanpa mengejan? Trs konsumsi apa biar bisa BAB? Perut terasa penuh.
    Tq infonya, salam kenal mba.

    • Maaf Mba Amalia, saya baru sempet buka blog karena ada kesibukan.Mudah-mudahan sekarang Mbak sudah sembuh total pasca operasi yaa…
      Salam

    • bahtiyar
    • May 6th, 2012

    wahhh.. panjang sekali ceritanya mbak… hehehe 🙂
    sama, juga baru 3 minggu kemarin habis di eksekusi… bukan main rasanya T.T , pada minggu2 pertama.. dan minggu berikutnya sudah agak mendingan. dan ini masih dalam masa-masa recovery
    Btw berapa lama waktu yang dibutuhkan mbak dulu, dari pasca operasi sampai sembuh total ?

    • Hehehe… cuman pengen share pengalaman saja Pak…
      Tapi pengalaman operasi ini bener-bener sengsara membawa nikmat ya…
      Untuk recovery total saya butuh waktu kurang lebih 2 bulanan Pak. Tapi kata Sp. B yg nanganin sih recovery sangat tergantung pada tingkat keparahan hemoroidnya…
      Semoga leka pulih dan beraktivitas normal lagi…;)

        • bahtiyar
        • May 11th, 2012

        Oiya mbak… sewaktu recovery dulu, sempat gak, ada keluhan susah BAB gara-gara lubang (maaf) “anus” menyempit. Trus jika ada, gimana penganannya dulu…?? Apakah normal sendiri atau bagaimana?
        terimakasih infonya🙂 hehehe

        • Klo masalah BAB pernah, hari ke 4-5 pasca Op. tapi itu bukan karena lubang anus menyempit Pak… Kata dokter sih cuma karena elastisitasnya masih agak terganggu akibat pembengkakan pasca operasi.
          Aku dikasi obat (lupa dah namanya) dan akhirnya masalah teratasi…:)

          Semoga recoverynya lancar yaa..

    • dedy
    • March 11th, 2012

    aku merasakan apa yg mbak rasakan,….karena baru 4 hari yg lalu aku di eksekusi,….huaaaaaaaa cakit bngettttttttttttttt,…..sarannya dong,…obat anti nyeri sama pengering luka,……..salam buat nindya

    • @dedy
      Hehehe…. Wah saya sudah lupa lho nama obat yang dikasi dokter bedah saya dulu. Tapi untuk meringankan nyerinya bisa direndam pake air hangat yang dicampur Dettol cair. Kalo mas perlu info lebih lanjut bisa kontak di web’nya Surgeon saya, dr. Eka Kusmawan, Sp.B di http://www.spesialisbedah.com. Beliau sangat aktif di Blog itu dan pasti bisa memberikan solusi terbaik untuk Mas Dedy….:)

      Semoga cepat pulih…

    • Lifa
    • August 30th, 2010

    mksh ya mb atas infonya untuk sharing..
    kl boleh tau mba pakai metode yang mana ya untuk operasi Hemoroidnya?n berapa biayanya?
    makasi yaa…

    • Sama-sama… Saya make metode konvensional karena metode itu yang dicover oleh insurance saya. Kalo diliat dari Invoice yg saya terima waktu itu sih sekitar 12 jutaan ya di RS tempat saya dirawat…

  2. hah, akhirnya selese baca tulisannya yg puanjang. tapi mengalir, makanya bisa tahan bacanya. btw, salam kenal…
    pertanyaanku yg blm terjawab (kupikiri ditemukan di akhir tulisan), hemorroid itu apa? heheheh…
    untuk warga awam sptku, plis buatkan satu paragraf soal ini. hehehe… semoga sudah tak ada komplikasi skarang ya bunda… salam untuk nindya

    • Hohoho…
      Jadi malu…
      Saya juga orang awam lho, cuman kebetulan aja karna dah “gaul” sama penyakit itu dalam waktu yang lumayan lama jadinya familiar juga….hehehe…
      Untuk info mengenai Hemorroid itu LuhDe bisa maen ke Blog’nya dr. Eka Kusmawan Sp.B di
      disini

      Salam

  3. great story u… Begitulah..Tuhan menciptakan penyakit pasti jg dgn obatnya..tetp semangat ya..!!
    wah..senangnya punya teman org Bali bu…sebulan yg lalu saya ke Bali kebingungan karena temen di sana baru sedikit..hehe..

    Salam kenal n sukses slalu…🙂

    • Hehehee…
      Makasi atas waktunya buat baca long story itu Bu….
      Kapan ke Bali lagi nih….???

        • Muhammad sidqi
        • August 3rd, 2015

        Seminggu yg lalu saya di op,sampai sekarang masih saja pegel dan ngebet pantat saya….

        • Semoga cepat pulih ya Pak…

          salam

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: